Presiden FIFA Gianni Infantino bersama dengan bola resmi Piala Dunia 2026. FIFA resmi meluncurkan Trionda sebagai bola resmi Piala Dunia 2026. Bola Piala Dunia 2026 ini diperkenalkan di New York, Jumat (3/10/2025) WIB, dengan desain yang terinspirasi dari tiga negara tuan rumah, Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.
Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter meminta dunia sepak bola mencopot Gianni Infantino dari jabatannya setelah berakhirnya Piala Dunia 2026. Menurut Blatter, turnamen sepak bola terbesar tersebut telah kehilangan kredibilitas akibat sejumlah keputusan selama penyelenggaraan. Blatter juga menyinggung hubungan dekat Infantino dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Ia menilai urusan politik tidak semestinya memengaruhi jalannya sepak bola. "Politik tidak boleh menutupi permainan." Pernyataan itu merujuk pada polemik pencabutan hukuman larangan bermain penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Sebelumnya, Balogun mendapat kartu merah saat menghadapi Bosnia dan dijatuhi sanksi larangan bermain.
Laporan menyebut Trump kemudian menghubungi Infantino dan meminta keputusan tersebut ditinjau kembali. Setelah itu, komite disiplin FIFA menangguhkan hukuman Balogun sehingga ia dapat tampil pada laga babak 16 besar melawan Belgia. Meski akhirnya Amerika Serikat kalah 1-4 dari Belgia, keputusan tersebut tetap memicu perdebatan di dunia sepak bola.
Javier Tebas Ikut Desak Infantino Mundur Kritik terhadap Infantino juga datang dari Presiden LaLiga, Javier Tebas. Ia menilai kasus Balogun menjadi persoalan serius dan menyebut FIFA beruntung karena Amerika Serikat gagal melaju lebih jauh di Piala Dunia. "Penangguhan larangan terhadap pemain Amerika itu adalah masalah yang sangat serius," kata Tebas dalam wawancara dengan surat kabar Italia La Gazzetta dello Sport. "Mereka beruntung Belgia menyingkirkan AS karena jika tidak, kasus bisa muncul yang mungkin akan membuat Infantino kehilangan pekerjaannya."
"Karena Belgia menang, mereka berhasil mengubur masalah ini. Tetapi hal-hal ini hanyalah puncak gunung es." Selain menyoroti kasus tersebut, Tebas kembali mengkritik kebijakan FIFA dalam memperluas kompetisi internasional.
Menurutnya, langkah itu memberi beban lebih besar kepada liga domestik dan klub.
Ketika ditanya apakah Infantino sebaiknya mengundurkan diri, Tebas memberikan jawaban tegas. "Menurut pendapat saya, ya, saya pikir waktunya sudah habis." Peluang Infantino Bertahan Masih Terbuka Gianni Infantino sebelumnya mengumumkan akan kembali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA untuk periode 2027 hingga 2031. Pemilihan dijadwalkan berlangsung di Maroko pada 18 Maret tahun depan. Meski mendapat kritik dari sejumlah tokoh sepak bola, peluang Infantino mempertahankan jabatannya masih dinilai terbuka lebar. Hingga kini belum ada kandidat kuat yang diperkirakan mampu menantangnya dalam pemilihan mendatang.
Tebas juga menganggap kondisi tersebut membuat perubahan di tubuh FIFA sulit terjadi. "Dia seharusnya tidak tetap menjabat, tetapi keadaan saat ini berarti dia tidak akan pergi." "Tidak ada kandidat oposisi; tidak ada yang mau maju untuk kalah."
"Inilah sistemnya, dan sistem ini cacat dari akarnya. Saya telah mendengar banyak orang menentang Infantino, yang tidak setuju dengan apa yang dia lakukan. Mereka mengatakannya, tetapi kemudian mereka tidak melakukan apa pun."
Selain Blatter dan Tebas, Presiden UEFA Aleksander Ceferin juga disebut mengambil sikap berbeda terhadap FIFA. Ceferin bahkan tidak menghadiri final Piala Dunia 2026 setelah muncul sejumlah perbedaan pandangan antara UEFA dan FIFA terkait prosedur disiplin, operasional pertandingan, serta penugasan perwasitan.





Roma Rekrut Santiago Castro dari Bologna
UEFA Resmi Ancam Boikot Seluruh Kompetisi FIFA, Tolak Rencana Penjualan Piala Dunia ke Investor Swasta
Resmi! Real Madrid Rekrut Striker Baru dari Levante dengan Kontrak Lima Tahun