Selamat datang di DENTOTO, Bandar Bola, Togel, Live Casino & Slot Online Terbesar di Indonesia.
SLOT GACOR
Bonus Spesial
Freebet Slot
Provider Slot Gacor
slide-5
Home Login Live Score Berita Bola Kalkulator Odds
Berita Bola

Bagaimana Piala Dunia 64 Tim Bisa Ubah Ekonomi Sepak Bola?

22 Jul 2026 • Redaksi Bola
Bagaimana Piala Dunia 64 Tim Bisa Ubah Ekonomi Sepak Bola?

Foto selebrasi Timnas Spanyol Juara Piala Dunia 2026 yang diunggah federasi sepakbola SPanyol, tanpa Donald Trump.

Piala Dunia 2026 yang diikuti 48 tim baru saja berakhir. Namun, FIFA sudah mulai membuka kemungkinan turnamen sepak bola terbesar di dunia itu kembali diperluas menjadi 64 tim. Presiden FIFA Gianni Infantino mengakui kemungkinan tersebut dalam wawancara dengan televisi Swiss selama Piala Dunia 2026. Menurut dia, format Piala Dunia 64 tim merupakan salah satu gagasan yang dapat dibahas setelah turnamen berakhir.

Jika benar-benar diterapkan, perubahan tersebut bukan sekadar memperbesar jumlah peserta. Piala Dunia 64 tim berpotensi mengubah peta ekonomi sepak bola dunia, mulai dari nilai kompetisi kualifikasi, distribusi pendapatan FIFA, hingga keseimbangan kekuatan antara federasi sepak bola global dan konfederasi regional.

Tetapi, rencana tersebut juga menghadirkan tantangan besar, mulai dari jadwal yang semakin padat, beban pemain, kebutuhan infrastruktur, hingga biaya penyelenggaraan yang semakin tinggi.

Jumlah pertandingan bertambah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menjadi edisi pertama yang menggunakan format 48 tim setelah sejak 1998 turnamen selalu diikuti 32 negara. Dengan format baru tersebut, Piala Dunia 2026 terdiri dari 104 pertandingan dan berlangsung selama lebih dari lima pekan. Jika format 64 tim menggunakan struktur yang sama, yakni fase grup berisi empat tim yang dilanjutkan dengan fase gugur yang diikuti 32 tim, jumlah pertandingan akan meningkat menjadi 128 laga.

Artinya, akan ada 24 pertandingan tambahan dibandingkan Piala Dunia 2026. Jumlah tersebut juga dua kali lipat dibandingkan total pertandingan dalam format lama yang diikuti 32 tim. Tanpa pemadatan jadwal atau penambahan jumlah pertandingan yang dimainkan secara bersamaan, turnamen 64 tim berpotensi menambah durasi sekitar satu pekan. Hal tersebut berarti Piala Dunia yang saat ini sudah berlangsung lebih dari lima pekan akan menjadi semakin panjang.

Dampak ekonomi bagi sepak bola Perubahan terbesar dari Piala Dunia 64 tim mungkin justru terjadi di luar lapangan. Dengan semakin banyak negara yang lolos ke putaran final, kompetisi kualifikasi di berbagai konfederasi berpotensi kehilangan sebagian nilai komersialnya. Jika negara-negara besar lebih mudah lolos ke Piala Dunia, pertandingan kualifikasi bisa menjadi kurang menarik bagi stasiun televisi dan sponsor.

Dalam kondisi tersebut, enam konfederasi sepak bola regional dunia berpotensi semakin bergantung pada distribusi dana dari FIFA. Hal itu pada akhirnya dapat memperbesar pengaruh dan kekuatan finansial FIFA sebagai badan sepak bola dunia. Presiden UEFA Aleksander Ceferin sebelumnya telah menyatakan penolakan terhadap gagasan tersebut.

"Saya rasa itu bukan ide yang bagus untuk Piala Dunia itu sendiri dan juga bukan ide yang bagus untuk kualifikasi kami. Jadi, saya tidak mendukung gagasan itu," ujar Ceferin tahun lalu, dikutip dari Reuters.

Presiden Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC), Sheikh Salman bin Ibrahim Al Khalifa, juga pernah mempertanyakan batas ekspansi Piala Dunia. Namun, Infantino memiliki pandangan berbeda. Ia menilai Piala Dunia seharusnya menjadi turnamen untuk seluruh dunia dan memberikan kesempatan kepada negara-negara yang lebih kecil. "Saya pikir penting bahwa ketika Anda ingin menyelenggarakan Piala Dunia, Anda melakukannya untuk seluruh dunia, bukan hanya Eropa dan Amerika Selatan," kata Infantino. Menurut Infantino, kesempatan tampil di Piala Dunia dapat memberikan motivasi bagi negara-negara kecil untuk terus mengembangkan sepak bola mereka.

Tantangan penyelenggaraan semakin besar Piala Dunia 2030 akan digelar di enam negara, dengan Spanyol, Portugal, dan Maroko menjadi tuan rumah utama.

Sementara itu, Uruguay, Argentina, dan Paraguay masing-masing akan menggelar satu pertandingan pembuka sebagai bagian dari perayaan 100 tahun Piala Dunia. Namun, penyelenggaraan Piala Dunia 64 tim akan menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar.

Jika enam negara saja menghadapi tantangan besar untuk menampung 48 tim, menyelenggarakan turnamen 64 tim di satu negara akan membutuhkan persiapan infrastruktur yang jauh lebih masif. Arab Saudi yang dijadwalkan menjadi tuan rumah tunggal Piala Dunia 2034 sudah menghadapi tantangan tersendiri. Ramadan diperkirakan dimulai pada pertengahan November 2034. Kondisi tersebut dapat menyulitkan penerapan jadwal November-Desember seperti yang digunakan pada Piala Dunia 2022 di Qatar.

Jika Piala Dunia 64 tim diterapkan, tantangan tersebut akan semakin besar. Tuan rumah harus menyediakan lebih banyak stadion, lapangan latihan, hotel, transportasi, tenaga sukarelawan, serta infrastruktur pendukung lainnya. Arab Saudi sebelumnya mengusulkan 15 stadion untuk format 48 tim. Delapan stadion berada di Riyadh, empat di Jeddah, sedangkan stadion lainnya berada di Khobar, Neom, dan Abha.

Pembangunan serta renovasi sejumlah fasilitas tersebut telah dilakukan untuk mempersiapkan diri menjadi tuan rumah berbagai turnamen internasional. Jadwal kompetisi domestik ikut tertekan Ekspansi Piala Dunia juga berpotensi menambah tekanan terhadap kalender sepak bola internasional yang saat ini sudah sangat padat. Semakin panjang Piala Dunia berlangsung, semakin besar pula dampaknya terhadap kompetisi domestik di berbagai negara.

Sejumlah liga bahkan mulai mengubah kalender kompetisi mereka agar mengikuti pola musim Agustus hingga Mei yang selama ini menjadi standar di Eropa. Liga Jepang (J-League), misalnya, akan memulai musim dengan kalender Agustus hingga Mei. Major League Soccer (MLS) di Amerika Serikat juga berencana melakukan perubahan serupa mulai tahun depan.

Jika Piala Dunia kembali digelar pada musim dingin, dampaknya akan dirasakan oleh lebih banyak kompetisi domestik di seluruh dunia.

Piala Dunia 2022 di Qatar sebelumnya sudah memaksa sejumlah liga besar Eropa melakukan penyesuaian karena turnamen berlangsung pada November dan Desember. Dengan semakin banyak liga yang menggunakan kalender kompetisi Agustus-Mei, penyelenggaraan Piala Dunia pada periode tersebut berpotensi menimbulkan gangguan yang lebih luas. Biaya federasi Nasional membengkak Piala Dunia juga membutuhkan biaya besar bagi federasi sepak bola negara peserta.

Federasi Sepak Bola Prancis (FFF), misalnya, memperkirakan harus mengeluarkan sekitar 24,5 juta euro atau sekitar Rp 501,9 miliar untuk mengikuti Piala Dunia 2026 dengan asumsi kurs 1 euro setara Rp 20.446. Presiden FFF Philippe Diallo mengatakan Prancis kemungkinan harus setidaknya mencapai semifinal agar tidak mengalami kerugian. Dalam Kongres FIFA di Vancouver pada April lalu, Diallo juga meminta FIFA memberikan dukungan finansial yang lebih besar kepada negara-negara peserta.

Jika format 48 tim saja sudah memberikan tekanan finansial kepada federasi nasional, turnamen 64 tim yang berlangsung lebih lama berpotensi meningkatkan biaya tersebut. Ancaman bagi kondisi pemain Perluasan turnamen juga memunculkan kekhawatiran terkait kondisi fisik pemain. Semakin banyak pertandingan berarti semakin besar pula beban yang harus ditanggung pemain elite yang sepanjang musim telah menjalani kompetisi klub dan pertandingan internasional.

Dengan kalender sepak bola yang semakin padat, tambahan pertandingan Piala Dunia dapat meningkatkan risiko kelelahan dan cedera. Di sisi lain, format 64 tim memang memberikan kesempatan kepada lebih banyak negara untuk tampil di panggung terbesar sepak bola dunia. Namun, ekspansi tersebut juga dapat memunculkan kembali perdebatan mengenai keseimbangan kompetisi.

Pertanyaan lain yang mungkin muncul adalah apakah turnamen akan menjadi terlalu panjang, biaya bagi suporter semakin mahal, dan apakah Piala Dunia akan kehilangan eksklusivitas yang selama ini menjadi bagian penting dari daya tariknya. Pada akhirnya, masa depan Piala Dunia 64 tim kemungkinan akan sangat bergantung pada bagaimana dunia sepak bola menilai edisi pertama dengan 48 peserta.

Piala Dunia 2026 menjadi ujian pertama bagi format baru tersebut. Jika dinilai sukses secara olahraga dan komersial, bukan tidak mungkin FIFA akan kembali membahas ekspansi menjadi 64 tim. Tapi, jika format 48 tim saja sudah menimbulkan persoalan terkait jadwal, biaya, beban pemain, dan penyelenggaraan, gagasan untuk menambah peserta menjadi 64 negara akan menghadapi tantangan yang jauh lebih besar.